24 Agustus, 2009

Chocolate Girl

Perempatan Mampang adalah titik tersibuk disepanjang jalur resmi Kopaja 57 jurusan Blok M – Kampung Rambutan. Sopir yang terburu-buru biasanya lebih memilih menghindari perempatan itu melalui fly over. Namun konsekuensinya, ada banyak calon penumpang di sana yang sayang jika dilewati begitu saja.

Seperti lazimnya perempatan sibuk lain di kota ini, Perempatan Mampang juga menjadi tempat favorit untuk mengais rezeki dengan berbagai macam modus. Berdagang koran. Menjajakan asongan. Mengamen. Atau sekadar membagikan amplop-amplop lusuh bertuliskan permohonan bantuan. Yang unik dari Perempatan Mampang adalah para pengais rezeki di sana didominasi oleh anak kecil umur tujuh sampai sepuluh tahun. Mereka biasanya membentuk kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari tiga sampai lima orang anak.

Beberapa bulan lalu ketika masih menjalani pendidikan di Pusdiklat Kalibata, aku adalah penumpang setia Kopaja 57 setiap Minggu sore.

Dan disanalah aku (hampir) selalu melihatnya.

Aku tak kenal gadis itu. Tak tau siapa namanya. Entah darimana asal dan kemana tujuannya. Yang aku tau, gadis itu selalu naik di Perempatan Mampang. Selalu memilih tempat duduk persis di belakang sopir (jika kebetulan sedang kosong). Selalu membawa ransel besar yang terasa kontras sekali dengan postur mungilnya. Selalu menenteng sebuah bungkusan kecil.

Gadis Coklat.
Demikian aku diam-diam menamainya. Bukan karena kulit sawo matangnya. Juga bukan karena jaket coklat yang sekali dua kali pernah dipakainya.
Tapi karena bungkusan kecil yang ternyata berisi coklat itu.
Ketika kelompok pengamen cilik beraksi di bis kami, mata gadis itu awas memperhatikan. Mengkalkulasikan anggota kelompok untuk kemudian membandingkan dengan persediaan coklat dalam bungkusan kecilnya. Masing-masing anak dapat satu batang coklat. Beng-beng, Silverqueen ukuran sedang, atau bahkan Cadburry. Apapun merk yang diberikan, sepertinya coklat itu akan terasa lebih manis daripada yang seharusnya. Karena diberikan bersama senyuman manis dan (mungkin) niat yang tulus. Selepas lampu merah Perempatan Matraman, bungkusan kecil itu (hampir) selalu kosong.

Entah apa niatnya melakukan itu. Mungkin gadis itu adalah anak juragan coklat di kota ini. Mungkin juga gadis itu punya toko coklat terbesar di negri ini. Atau mungkin si gadis cuma warga masyarakat biasa yang ingin memberi sesuatu benar-benar kepada anak-anak pengais rezeki jalanan itu. Semua orang sepertinya sudah tau bahwa uang yang dihasilkan anak-anak pengais rezeki jalanan itu bukanlah untuk mereka gunakan sendiri. Selalu ada orang di balik mereka. Entah itu orangtua. Saudara. Atau preman. Memberikan coklat (dan bukan uang) mungkin adalah solusi yang tepat untuk berbagi kebahagiaan langsung pada mereka.

Sudah lama aku tidak menumpang Kopaja 57. Sudah cukup lama pula aku melupakan Gadis Coklat.
Namun saat ini, ketika masalah terasa semakin menumpuk. Ketika semangat masih terpuruk. Ketika sensitifitas tetap menunduk. Ingatanku kembali padanya. Pada gadis coklat. Gadis unik yang punya cara unik untuk berbagi.

30 November, 2008

Charlie Wilson’s War

Charlie Wilson (Tom Hanks) tersentuh hatinya saat berkunjung ke pengungsian Afghanistan di Peshawar Pakistan awal tahun 1980-an atas undangan langsung Presiden Pakistan saat itu Muhammad Zia Ul-Haq. Ketika itu Uni Soviet melakukan invasi besar-besaran ke Afghanistan. Pakistan sebagai tetangga terdekat harus rela menampung seperlima jumlah penduduk Afghanistan sebagai pengungsi.

Charlie Wilson bukanlah orang sembarangan meski sering berprilaku sembarangan. Charlie adalah satu dari sembilan angota Kongres yang membidangi sub komite Departemen Pertahan AS. Komite inilah yang bertugas mengalokasikan anggaran tak terbatas AS untuk operasi militer rahasia. Dalam istilah Joanne (Julia Roberts), Komite ini berada di perempatan jalan antara Departemen Pertahanan, Pentagon dan CIA. Seluruh aktivitas operasi Dephan, Pentagon dan CIA harus melewati rekomendasi dan persetujuan dari Komite ini. Jika tidak, dana tidak akan turun.

Baca terus →

30 November, 2008

Elang

Namanya Elang. “Elang”, dengan “E” seperti kita menyebut “E” pada kata “Enak”.

Kami mengenalnya sebagai seorang ustadz sekaligus aktivis. Elanglah yang selalu membujuk kami ikut pengajian setiap sore sekali dalam seminggu. Elanglah yang tak pernah bosan mengajak kami shalat dhuha pada saat jam istirahat. Elanglah yang menasehati kami disaat penyakit malas belajar dan ibadah sedang melanda kami. Elanglah yang mengompori kami untuk ikut-ikutan aksi boikot produk dari negara tertentu.

Elang adalah imam shalat. Elang adalah qari yang bacaannya fasih dan indah. Elang adalah bintang dengan segudang prestasi. Elang adalah orator dalam mimbar-mimbar kami. Baca terus →

3 Agustus, 2008

Wanita Pemandu Wisata

Pagi ini wanita paruh baya itu tampil dengan baju coklat muda yang dipadukan dengan celana panjang putih. Agak berbeda dengan kebiasaanya yang hampir selalu mengenakan pakaian berwarna meriah (kalau tidak mau dikatakan norak) seperti merah atau kuning. Terasa kontras memang dengan usianya yang kuprediksi sudah menginjak kepala enam. Rambut sebahunya terlihat lebih hitam daripada biasanya. Timbunan uban itu tentu sudah dipoles dengan cairan penghitam rambut. Tas tangan dan setumpuk kertas masih setia menemaninya.

Wanita ini adalah pemandu wisata kami. Sekali dalam seminggu beliau rutin membawa kami berwisata kemana saja tempat yang menarik baginya. Puluhan tempat sudah kami kunjungi bersamanya. Tapi ada saja hal-hal baru yang kami temukan dalam perjalanan-perjalanan itu.

Suatu waktu kami melihat langsung bagaimana manusia suku pedalaman Papua memanggang babi dalam oven tradisional berupa sebuah lubang yang dipenuhi batu dan ditutupi oleh batu juga. Pernah juga kami diajak berlayar bersama orang-orang dari suku Bugis. Dan kami melihat langsung bagaimana lelaki perkasa suku Bugis berdiri diatas tiang kapal menantang ganas badai lautan. Di lain waktu beliau mengajak kami ke pedalaman hutan jambi untuk bertemu dengan suku Kubu atau juga disebut suku Anak Dalam. Dan kami sangat terkesan dengan orang-orang suku Kubu yang selalu memegang teguh prinsip untuk tidak mencemari alam. Hal yang mungkin baru terpikirkan oleh kita(yang mengaku sebagai manusia modern ini) ketika es kutub utara sudah mulai mencair. Ketika ilmu titen petani Jawa sudah tidak berlaku lagi. Ketika cuaca terasa lebih panas jika dibandingkan 10 tahun yang lalu. Baca terus →

3 Agustus, 2008

Gone Baby Gone

Ben Affleck memulai debutnya sebagai sutradara melalui sebuah film luar biasa berjudul Gone Baby Gone yang diadaptasikan dari sebuah novel dengan judul sama hasil karya Dennis Lehane. Dennis Lehane juga mengarang Mystic River, sebuah novel yang menginspirasi Clint Eastwood membuat menuangkannya dalam bentuk Film. Seperti halnya Mystic River, Gone Baby Gone juga bercerita tentang kejahatan terhadap anak-anak.

Amanda McGready, gadis cilik usia 5 tahun hilang. Dugaan sementara, gadis ini adalah korban penculikan anak. Issue ini menjadi issue besar tingkat nasional. Wartawan, tetangga, polisi semua ikut ambil bagian dalam usaha pencarian Amanda.
Bibi Amanda, Bea McGready berinisiatif menyewa Patrick Kenzie (Casey Affleck), seorang detektif swasta khusus pencarian orang hilang. Penyelidikan pun dilakukan. Pada perkembangan selanjutnya, ditemukan fakta-fakta mengejutkan khas film detektif.

Patrick berhasil mengungkap sebuah konspirasi besar yang bertujuan untuk memisahkan Amanda dengan ibunya, Helene McGready, seorang wanita pemabuk dan pecandu kokain. Ironisnya, pelaku utama konspirasi ini adalah kepala tim penyelidik kasus pencarian Amanda, Jack Doyle(Morgan Freeman) yang dibantu oleh Remy Bressant(Ed Harris) dan Lionel McGready, paman Amanda sendiri. Baca terus →