Namanya Elang. “Elang”, dengan “E” seperti kita menyebut “E” pada kata “Enak”.
Kami mengenalnya sebagai seorang ustadz sekaligus aktivis. Elanglah yang selalu membujuk kami ikut pengajian setiap sore sekali dalam seminggu. Elanglah yang tak pernah bosan mengajak kami shalat dhuha pada saat jam istirahat. Elanglah yang menasehati kami disaat penyakit malas belajar dan ibadah sedang melanda kami. Elanglah yang mengompori kami untuk ikut-ikutan aksi boikot produk dari negara tertentu.
Elang adalah imam shalat. Elang adalah qari yang bacaannya fasih dan indah. Elang adalah bintang dengan segudang prestasi. Elang adalah orator dalam mimbar-mimbar kami.
Bilangan tahun tak pernah bertemu, Elang muncul menemui salah satu dari kami. Ketika itu Elang datang dengan celana jeans hitam. Jaket yang juga berbahan jeans. Sepasang sepatu Allstar. Sebatang Marlboro yang tinggal separo. Dan sebuah gitar di tangan kirinya.
Elang masih seorang ustadz. Setidaknya masih dianggap ustadz oleh teman-teman musisinya. Elanglah yang shalat lima waktunya tak pernah ketinggalan. Elanglah yang masih bertilawah sekali dalam sehari. Elangpun masih seorang aktivis. Setidaknya aktivis yang aktif dalam komunitasnya.
***postingan ini tentu sudah didramatisir





1 Komentar
3 Maret, 2009 pukul 4:08 pm
Kasem.
Ta’ kira beneran.
Kapan nikah Tak ?.
Tampilan blognya tambah keren.
Tapi ko’ sepi ?