14 Maret, 2008

The Pursuit of Happyness

Film dengan embel-embel “based on true story” selalu menjadi lebih menarik bagiku. Begitu juga dengan the Pursuit of Happyness, sebuah Film yang menceritakan kehidupan asli Chris Gardner, seorang multijutawan amerika. Will Smith mengambil peran utama sebagai Chris Gardner dalam film ini.

Chris digambarkan sebagai seorang ayah baik yang banyak dirundung masalah. Masalah klasik bagi umat manusia, ekonomi. Bekerja sebagai seorang sales yang menjajakan alat ronsen dari satu pintu rumah sakit ke rumah sakit lainnya. Ditemani seorang isteri yang bekerja sebagai buruh rendahan di sebuah pabrik konveksi. Rumah tangga mereka membuahkan Christopher, bocah lucu yang ternyata diperankan oleh anak kandung Will Smith sendiri. Tekanan hidup semakin lama terasa semakin berat. Sudah lama Chris tidak menjual satupun alat ronsen. Tagihan menumpuk, sewa rumah menunggak, hutangpun dimana-mana. Ibarat bom waktu, tekanan itu akhirnya meledak dan mencapai puncaknya ketika sang isteri tercinta memutuskan untuk meninggalkan anak dan suaminya. Namun, Chris adalah lelaki yang tangguh. Di tengah tekanan hidup yang begitu dahsyatnya, Chris bersama anaknya masih bertahan dengan menjual alat ronsen yang tersisa di sela-sela usahanya melamar di sebuah perusahaan pialang saham terkenal. Petualangan Chris Gardner memburu kebahagiaanpun dimulai.

Luar biasa. Seolah ada pisau bermata tajam yang menusuk-nusuk jantung saat menonton film ini. Sangat menyentuh. Akting Will Smith adalah kekuatan utama film ini. Tatapan mata, air muka dan ekspresi wajah Will sangat pas menggambarkan derita hidup berkepanjangan.
Aku teringat suatu adegan ketika Chris bersama anaknya terpaksa menginap di Toilet umum setelah terusir dari rumah sewaannya karena tagihan yang sudah sangat menumpuk. Chris Mengunci pintu toilet dari dalam. Petugas Cleaning Service menggedor-gedor pintu toilet itu. Chris hanya bisa pasrah sambil memeluk anaknya. Wajahnya memperlihatkan ekspresi cemas bercampur takut. Air matapun tak tertahankan ikut tumpah ruah, seolah ingin menyejukkan derita tuannya. Air mata yang terpahat akibat derita berkepanjangan. Akting yang luar biasa memikat!! Baca terus →

21 Januari, 2008

Validasi Form Secara Realtime dengan Javascript

Salah satu masalah yang paling sering muncul pada aplikasi web yang memanfaatkan form sebagai sarana menerima input dari user adalah tingkat kevalidan data yang diinput. Ada saja user yang “iseng” atau kurang teliti, sehingga menginput data tidak sesuai kebutuhan aplikasi. Misalnya sebuah aplikasi pendaftaran mensyaratkan user menginput password yang sama sebanyak 2 kali untuk konfirmasi. User yang kurang teliti bisa saja menginput data yang berbeda antara password dengan konfirmasi password.

Masalah seperti ini sebenarnya bisa saja diatasi dengan bahasa server side pengolah form seperti PHP dan ASP. Namun, menggunakan bahasa server side untuk menguji kevalidan data yang diinput memiliki kekurangan, yaitu tidak dapat dilakukan secara real time. User harus mensubmit form terlebih dahulu, lalu menunggu proses validasi. Jika data tidak valid, maka proses pengisian data terpaksa harus diulangi. Cara seperti ini tentu tidak efisien karena memakan waktu dan juga bandwith.

Javascript adalah solusinya. Dengan javascript kita bisa menguji kevalidan data yang diinput user langsung secara real time tanpa harus menunggu form disubmit terlebih dahulu. Idenya sih sederhana saja. Tombol submit di-disable selama user belum menginput data secara valid, sehingga form baru bisa disubmit setelah semua data diisi dengan benar.

Baca terus →

9 Januari, 2008

Bridge to Terabithia

Berkisah tentang dua orang anak kecil seumuran SD. Jess dan Leslie sama-sama dianggap freaks di sekolahnya. Jess, anak petani miskin yang berbakat melukis. Sedang Leslie adalah cewek tomboy yang hobi bertualang. Dua sahabat cilik kita ini senang bermain di hutan. Mereka membuat semacam “secret place” di seberang sungai yang hanya bisa dicapai dengan berayun pada sebuah tali. Secret Place klasik anak-anak berupa rumah pohon dengan tangga talinya.

Dunia anak-anak dunia penuh imajinasi. Begitu juga dengan dunianya Jess dan Leslie. Capung di sekitar “secret place” mereka, diimajinasikan sebagai pasukan-pasukan pemberani dengan busur dan pedangnya. Suara berisik dari sebuah mobil bekas akibat tiupan angin adalah suara monster-monster narapidana yang hendak keluar penjara. PT, anjingnya Leslie adalah pemburu Troll raksasa yang handal. Tupai dan burung adalah anak buah Pangeran Kegelapan yang berniat menghancurkan kerajaan mereka. Kerajaan imajinatif mereka, Terabithia.

Cerita mencapai puncaknya ketika Leslie meninggal akibat mencoba berayun saat pergi ke Terabithia. Leslie jatuh, kepalanya terbentur lalu hanyut di sungai. Sementara pada saat yang bersamaan Jess sedang “kencan” dengan guru keseniannya di sebuah museum di kota. Pada saat akan berangkat ke museum, sempat terpikirkan oleh Jess untuk mengajak Leslie. Namun niat itu diurungkan, sehingga Jess hanya pergi berdua saja dengan guru keseniannya yang sungguh cantik dengan mata hijau itu. Seandainya Jess mengajak Leslie, tentu Leslie tidak akan berayun dengan tali itu dan meninggal. Jess, pada usia sekecil dipaksa menanggung perasaan merasa bersalah yang sungguh berat. Baca terus →

9 Januari, 2008

Senyum Pria itu

“Ki, aku numpang mandi di tempat mu ya”, sms seorang teman pukul 10 tadi.
15 menit berselang pria itu datang. Dengan rambut spykinya yang selalu basah. Tak Ketinggalan stelan sweater casual dipadukan “celana STAN”. Kesan elegan dan modis melekat pada pria ini. Kesan baru yang coba diperlihatkannya.

Aku sudah lama kenal pria ini. 2 tahunan lah. Waktu pertama kali kenal, pria ini adalah pria biasa dengan cara berpikir yang biasa juga. Just Like me. Waktu memang cepat berubah. Dalam tempo 1 bulan, pria ini berubah menjadi seorang pria elegan yang terkenal. dalam waktu 1 bulan pengetahuan dan kharisma pria ini terasa bertambah berkalilipat. Dalam waktu 1 bulan, pria ini berhasil lahir kembali sebagai seorang manusia baru dengan sikap baru, pemikiran baru.

Senyum selalu tampak menghiasi wajahnya. Senyum tulus yang terukir sebagai refleksi situasi hatinya yang selalu merasa damai menjalani hidup ini. ”Aku ga pernah nyangka bakalan kayak gini. Bakalan jadi bahagia gini”, katanya saat kami di warung nasi goreng. Baca terus →