Pempek Hambar di Al-Azhar

Maka, saya sangat heran malam itu, ketika pempek di belakang masjid Al-Azhar nyaris tak memberikan rasa.  meski cuko-nya berwarna coklat kental dengan taburan timun dadu, namun cairan itu lewat begitu saja di kerongkongan tanpa meninggalkan sedikitpun cita rasa.

Ribuan reseptor pada papila lidah ini kaku tak berdaya. setakberdaya puluhan milyar sel lainnya pada tubuh ini. dihadapan sebuah senyuman menenangkan menghanyutkan layaknya candu dari asia tengah. Saya telah menjadi pemilik tunggal senyuman itu. Maka, apakah yang lebih membahagiakan daripada memilikimu, Nury Siti Ermawati?

 

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Mbak Guru

“Jadi, apa sih yang kamu cari disini? di tempat ini?”

“Pengabdian pada masyarakat. Saya menyebutnya idealisme, tapi banyak orang menganggapnya klise. Tak apalah dibilang klise. Mungkin terlalu banyak warna lah yang menyebabkan kita jadi lupa perbedaan hitam dan putih seperti yang tercetak jelas pada sebuah klise.”

Saya mencoba memahami perkataanya. mencari keterkaitan antara tiga kata kunci: pengabdian, idealisme dan klise. Kala itu, di tengah kekalutan pikiran akan hal lain, saya gagal memahami prinsip hidup Mbak Guru. Prinsip hidup sederhana tentang seorang Mbak Guru yang ingin mengabdikan dirinya pada masyarakat lewat pendidikan. Meski nyaris tanpa balas jasa setimpal. Beberapa ratus ribu per bulan tak pernah setara dengan pengabdian Mbak Guru mengajar anak-anak di daerah terpencil ini.

“Jika hujan turun, jalanan akan becek dan licin. Makanya saya selalu sedia bawa sepatu AP Boots, topi caping dan jas hujan. Jadi, mau mengajar ke sekolah atau pun mau ‘mantang balam’ seragamnya sama saja. heheheh…”, Kata Mbak Guru sambil tertawa renyah memamerkan dereten gigi putihnya yang rapi seperti barisan tentara angkatan Laut.

Mantang Balam dalam bahasa orang Muara Enim berarti menyadap karet. Setiap pagi sebelum berangkat ke Sekolah, Mbak Guru menyempatkan diri menyadap karet. Keluarga Mbak Guru punya berhektar-hektar Kebun Karet yang dikerjakan Mbak Guru bersama saudara-saudaranya. Getah karet yang dihasilkan dalam seminggu setara dengan honor mengajar selama setahun. 

“Satu hal yang saya yakini dari dulu, bahwa idealisme akan sangat mudah digadaikan jika saya lapar. Makanya, saya harus kenyang. harus selalu kenyang. baru bicara idealisme.” Mata cemerlangnya mengerjap-ngerjap saat mengatakan itu. Kata kawan saya, orang yang matanya selalu mengerjap-ngerjap saat bicara biasanya cerdas. Saya tak pernah percaya dengan kawan saya yang matanya memang selalu mengerjap-ngerjap ketika bicara itu. Tapi untuk kasus Mbak Guru, rasanya teori kawan saya itu ada benarnya. Mbak Guru adalah lulusan Fakultas Keguruan di salah satu Kampus terbaik di Republik ini. Cita-cita untuk menjadi Guru sudah mendarahdaging dalam diri gadis kebun Karet itu sejak masih sekolah. 

1 Komentar

Filed under mereka

Bicara Tentang Perubahan

Luar biasa rasanya menyaksikan bagaimana hidup membuat lompatan-lompatan perubahan mencengangkan yang sebelumnya sedetikpun tak pernah terlintas dalam imajinasi.

Umar bin Khattab tadinya adalah orang nomor satu yang ingin membunuh Nabi Muhammad SAW. Untaian Ayat-ayat suci dalam Surat Thaha-lah yang menggoncang Umar dan berbalik menjadi orang nomor satu yang ingin membela Nabi.

Mungkin tak pernah terpikirkan oleh Nazaruddin bahwa suatu saat nasib akan membawanya menjadi buronan Interpol dan pesakitan KPK.

Selama 30 tahun berkuasa mungkin semalampun Hosni Mubarak tak pernah bermimpi tentang aksi heroik pemuda-pemuda Mesir menuntut pengunduran dirinya.

Saya tak pernah membayangkan bahwa Kawan main kartu saya dulu, sekarang menjadi manusia tangguh yang menginspirasi banyak orang, termasuk saya sendiri.

Hidup memperlakukan saya seperti bocah kecil yang penasaran ketika sedikit demi sedikit Takdir menyingkap lembaran rahasianya. Bocah kecil malang yang takjub dengan dengan Mahakarya rahasia takdir dan selalu bertanya-tanya perubahan macam apa lagi yang tertulis dalam lembaran berikutnya.
Katanya, setiap detik adalah perubahan. Pertanyaannya adalah, perubahan macam apa yang akan terjadi pada detik berikutnya. Positifkah atau negatifkah? Namun bagi saya, Life must go on. Hidup tetap berjalan. Harus berjalan. Jadi, nikmati saja seperti Abang tukang becak berikut:

3 Komentar

Filed under Uncategorized

Kisah Neneng

Kapal itu besar sekali. Tak pernah Neneng melihat kapal sebesar itu sebelumnya. Bahkan truk pengangkut gula pun bisa masuk ke dalamnya. Rantai-rantainyakokoh dan gagah. Geladak dan Buritannya luas sekali. Lebih luas daripada empat kali lapangan voli di kampung sebelah.
Neneng tersenyum dalam hati. Inilah jalanku, batinnya. Tak salah lagi. Kapal Besar ini hanyalah sebuah awal. Hari-hari kedepan Neneng yakin akan menemukan lebih banyak lagi hal-hal menakjubkan lainnya.

”Hati-Hati di Jalan!”, Teriak laki-laki berkemeja kotak-kotak di ujung dermaga. Hari itu, Senyum tak pernah lepas dari wajahnya. Jaket kulit lusuh dipundaknya terlihat tak selusuh biasanya.
Neneng menoleh. Ah, Aldrin! Laki-laki itu seolah datang diutus Tuhan untuknya. Dua Minggu lalu di suatu siang yang terik Aldrin datang menghampirinya. Bercerita banyak tentang Malaysia. Tentang pekerjaan berlimpah dengan gaji yang berlimpah pula.

”Tak Perlu sekolah tinggi-tinggi. Asal bisa menghitung uang bisalah kau kerja jadi penjaga toko disana. Gajinya 2000 ringgit sebulan. Kau kalikan saja 3000 rupiah” Jelas Aldrin.

”Kau lihat rumah Pak Badrun di kampung sebelah? Kau pikir darimana dia bisa membangun rumah begitu bagusnya? Ada parabola, kulkas dan mesin cuci. Itu semua dari uang kiriman Nunik yang jadi TKW di Malaysia.”
Neneng teringat Nunik, Kawan satu SD-nya dulu. Lebaran tahun lalu Nunik pulang kampung. Seperti bintang film saja Nunik waktu itu. Rambutnya pirang. Bajunya modis dan pakai kacamata hitam. Perhiasannya bukan imitasi. Siapa yang tak mau sukses seperti Nunik.

”Apalagi yang bisa kau lakukan disini Neneng? Pergilah ke Malaysia. Tak perlu kau risaukan ongkosnya. Aku bisa meminjamimu. Nanti saja kau bayar kalau uangmu sudah banyak.”

Tak perlu waktu lama bagi Neneng untuk memikirkan tawaran Aldrin. Neneng sudah sangat bosan dengan kampung sepi yang gersang ini. Tak ada lagi yang bisa dilakukan lulusan SD seperti Neneng disini. Meski tanpa restu Emak, Neneng memutuskan untuk tetap berangkat. Dalam hati Neneng bertekad, suatu saat nanti akan pulang dan membawa banyak uang. Neneng akan membeli sawah dan sapi yang banyak untuk Emak. Emak tak perlu lagi bekerja keras, karena Neneng akan membayar orang kampung untuk mengerjakan sawah-sawah mereka.

Suara gaduh petugas kapal yang menyuruh Neneng naik membuyarkan lamunannya. Dengan langkah mantap Neneng menaiki Kapal. Doa-doa memohon keselamatan tak henti-hentinya dilafadzkan Neneng. Neneng menoleh sekali lagi ke arah Dermaga. Aldrin sudah tak ada.

***

Neneng akhirnya diberangkatkan secara ilegal ke Malaysia lewat Batam tanpa satu pun dokumen resmi. Disekap berhari-hari di Johor bersama pekerja-pekerja migran lain dari berbagai negara. Tahun-tahun berikutnya dihabiskan Neneng bekerja berpindah-pindah dari satu majikan ke majikan lain. Tanpa bayaran sepeserpun. Sangat sering mendapat perlakuan kasar.

Beberapa kali Neneng mencoba kabur, beberapa kali juga Neneng gagal. Kadang ditemukan lagi oleh Majikannya. Kadang bertemu penipu lain yang menjualnya ke Majikan lain. Sampai suatu saat seorang wanita paruh baya, entah siapa, berbaik hati mengantarkan Neneng ke KBRI Kuala Lumpur. Neneng bersama ratusan pekerja Migran lain masih bertahan mencoba mengais sisa-sisa keadilan yang entah kapan mereka dapatkan.

***

Neneng adalah satu dari 3 Juta Pekerja Migran Indonesia yang menjadi korban perdagangan manusia.
Sumber data: http://www.migrantcare.net
Sumber gambar: http://claressagifts.blogspot.com

3 Komentar

Filed under mereka

Chocolate Girl

Perempatan Mampang adalah titik tersibuk disepanjang jalur resmi Kopaja 57 jurusan Blok M – Kampung Rambutan. Sopir yang terburu-buru biasanya lebih memilih menghindari perempatan itu melalui fly over. Namun konsekuensinya, ada banyak calon penumpang di sana yang sayang jika dilewati begitu saja.

Seperti lazimnya perempatan sibuk lain di kota ini, Perempatan Mampang juga menjadi tempat favorit untuk mengais rezeki dengan berbagai macam modus. Berdagang koran. Menjajakan asongan. Mengamen. Atau sekadar membagikan amplop-amplop lusuh bertuliskan permohonan bantuan. Yang unik dari Perempatan Mampang adalah para pengais rezeki di sana didominasi oleh anak kecil umur tujuh sampai sepuluh tahun. Mereka biasanya membentuk kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari tiga sampai lima orang anak.

Beberapa bulan lalu ketika masih menjalani pendidikan di Pusdiklat Kalibata, aku adalah penumpang setia Kopaja 57 setiap Minggu sore.

Dan disanalah aku (hampir) selalu melihatnya.

Aku tak kenal gadis itu. Tak tau siapa namanya. Entah darimana asal dan kemana tujuannya. Yang aku tau, gadis itu selalu naik di Perempatan Mampang. Selalu memilih tempat duduk persis di belakang sopir (jika kebetulan sedang kosong). Selalu membawa ransel besar yang terasa kontras sekali dengan postur mungilnya. Selalu menenteng sebuah bungkusan kecil.

Gadis Coklat.
Demikian aku diam-diam menamainya. Bukan karena kulit sawo matangnya. Juga bukan karena jaket coklat yang sekali dua kali pernah dipakainya.
Tapi karena bungkusan kecil yang ternyata berisi coklat itu.
Ketika kelompok pengamen cilik beraksi di bis kami, mata gadis itu awas memperhatikan. Mengkalkulasikan anggota kelompok untuk kemudian membandingkan dengan persediaan coklat dalam bungkusan kecilnya. Masing-masing anak dapat satu batang coklat. Beng-beng, Silverqueen ukuran sedang, atau bahkan Cadburry. Apapun merk yang diberikan, sepertinya coklat itu akan terasa lebih manis daripada yang seharusnya. Karena diberikan bersama senyuman manis dan (mungkin) niat yang tulus. Selepas lampu merah Perempatan Matraman, bungkusan kecil itu (hampir) selalu kosong.

Entah apa niatnya melakukan itu. Mungkin gadis itu adalah anak juragan coklat di kota ini. Mungkin juga gadis itu punya toko coklat terbesar di negri ini. Atau mungkin si gadis cuma warga masyarakat biasa yang ingin memberi sesuatu benar-benar kepada anak-anak pengais rezeki jalanan itu. Semua orang sepertinya sudah tau bahwa uang yang dihasilkan anak-anak pengais rezeki jalanan itu bukanlah untuk mereka gunakan sendiri. Selalu ada orang di balik mereka. Entah itu orangtua. Saudara. Atau preman. Memberikan coklat (dan bukan uang) mungkin adalah solusi yang tepat untuk berbagi kebahagiaan langsung pada mereka.

Sudah lama aku tidak menumpang Kopaja 57. Sudah cukup lama pula aku melupakan Gadis Coklat.
Namun saat ini, ketika masalah terasa semakin menumpuk. Ketika semangat masih terpuruk. Ketika sensitifitas tetap menunduk. Ingatanku kembali padanya. Pada gadis coklat. Gadis unik yang punya cara unik untuk berbagi.

7 Komentar

Filed under mereka

Charlie Wilson’s War

Charlie Wilson (Tom Hanks) tersentuh hatinya saat berkunjung ke pengungsian Afghanistan di Peshawar Pakistan awal tahun 1980-an atas undangan langsung Presiden Pakistan saat itu Muhammad Zia Ul-Haq. Ketika itu Uni Soviet melakukan invasi besar-besaran ke Afghanistan. Pakistan sebagai tetangga terdekat harus rela menampung seperlima jumlah penduduk Afghanistan sebagai pengungsi.

Charlie Wilson bukanlah orang sembarangan meski sering berprilaku sembarangan. Charlie adalah satu dari sembilan angota Kongres yang membidangi sub komite Departemen Pertahan AS. Komite inilah yang bertugas mengalokasikan anggaran tak terbatas AS untuk operasi militer rahasia. Dalam istilah Joanne (Julia Roberts), Komite ini berada di perempatan jalan antara Departemen Pertahanan, Pentagon dan CIA. Seluruh aktivitas operasi Dephan, Pentagon dan CIA harus melewati rekomendasi dan persetujuan dari Komite ini. Jika tidak, dana tidak akan turun.

Baca lebih lanjut

1 Komentar

Filed under Film

Elang

Namanya Elang. “Elang”, dengan “E” seperti kita menyebut “E” pada kata “Enak”.

Kami mengenalnya sebagai seorang ustadz sekaligus aktivis. Elanglah yang selalu membujuk kami ikut pengajian setiap sore sekali dalam seminggu. Elanglah yang tak pernah bosan mengajak kami shalat dhuha pada saat jam istirahat. Elanglah yang menasehati kami disaat penyakit malas belajar dan ibadah sedang melanda kami. Elanglah yang mengompori kami untuk ikut-ikutan aksi boikot produk dari negara tertentu.

Elang adalah imam shalat. Elang adalah qari yang bacaannya fasih dan indah. Elang adalah bintang dengan segudang prestasi. Elang adalah orator dalam mimbar-mimbar kami. Baca lebih lanjut

3 Komentar

Filed under mereka