Wanita Pemandu Wisata

Pagi ini wanita paruh baya itu tampil dengan baju coklat muda yang dipadukan dengan celana panjang putih. Agak berbeda dengan kebiasaanya yang hampir selalu mengenakan pakaian berwarna meriah (kalau tidak mau dikatakan norak) seperti merah atau kuning. Terasa kontras memang dengan usianya yang kuprediksi sudah menginjak kepala enam. Rambut sebahunya terlihat lebih hitam daripada biasanya. Timbunan uban itu tentu sudah dipoles dengan cairan penghitam rambut. Tas tangan dan setumpuk kertas masih setia menemaninya.

Wanita ini adalah pemandu wisata kami. Sekali dalam seminggu beliau rutin membawa kami berwisata kemana saja tempat yang menarik baginya. Puluhan tempat sudah kami kunjungi bersamanya. Tapi ada saja hal-hal baru yang kami temukan dalam perjalanan-perjalanan itu.

Suatu waktu kami melihat langsung bagaimana manusia suku pedalaman Papua memanggang babi dalam oven tradisional berupa sebuah lubang yang dipenuhi batu dan ditutupi oleh batu juga. Pernah juga kami diajak berlayar bersama orang-orang dari suku Bugis. Dan kami melihat langsung bagaimana lelaki perkasa suku Bugis berdiri diatas tiang kapal menantang ganas badai lautan. Di lain waktu beliau mengajak kami ke pedalaman hutan jambi untuk bertemu dengan suku Kubu atau juga disebut suku Anak Dalam. Dan kami sangat terkesan dengan orang-orang suku Kubu yang selalu memegang teguh prinsip untuk tidak mencemari alam. Hal yang mungkin baru terpikirkan oleh kita(yang mengaku sebagai manusia modern ini) ketika es kutub utara sudah mulai mencair. Ketika ilmu titen petani Jawa sudah tidak berlaku lagi. Ketika cuaca terasa lebih panas jika dibandingkan 10 tahun yang lalu.

Beberapa bulan yang lalu beliau mengajak kami melakukan perjalanan menuju Machu Pichu Peru. Wanita itu juga pernah membawa kami ke Roma melihat patung seorang wanita yang dipercaya jika disentuh oleh sepasang kekasih maka akan dapat melanggengkan hubungan cinta keduanya. Benua terkecil Australia juga pernah kami kunjungi bersama Beliau. Di sana kami melihat orang-orang Suku Aborigin yang termarginalkan oleh kedigdayaan pendatang-pendang Eropa.

Kami tidak hanya melakukan perjalanan menembus ruang. Kadangkala kami diajak menempuh perjalanan lintas waktu ke masa lalu. Seperti kali ini, Beliau membawa kami ke masa di mana Spanyol baru saja terusir dari tanah Maluku. Sisa-sisa tentara Spanyol melarikan diri ke Utara menuju Filipina. Dalam masa pelarian, sebagian tentara Spanyol sempat bermukim di Sulawesi Utara dan menikah dengan penduduk setempat. Sehingga, tahulah kami mengapa banyak orang-orang Manado berkulit putih, berhidung mancung dan hobi mengadakan pesta.

Mesin waktu yang dimiliki Wanita itu ternyata juga bisa membawa kami ke zaman glasial dimana bumi masih diselimuti oleh es. Kami mengikuti rombongan orang-orang Mongol yang berjalan kaki ke arah timur menuju Benua yang sekarang kita kenal dengan nama Amerika. Tahulah kami darimana asal usul suku Indian yang merupakan penduduk asli benua Amerika. Sebelum kembali ke masa kini, beliau membawa kami singgah sebentar ke masa dimana Islam mulai masuk ke tanah Jawa. Sisa-sisa orang Majapahit yang menolak masuk Islam menyebrang ke pulau seberang dan membentuk komunitas Hindu di pulau Dewata itu.

Begitulah rutinitas kami setiap minggu bersama pemandu wisata itu. Wanita luar biasa yang selalu datang lebih pagi dari semua orang. Padahal jarak Depok-Bintaro bukanlah jarak yang dekat. Apalagi jika ditempuh dengan kendaraan umum. Dan siapa yang menyangka, ternyata pemandu wisata kami yang selalu berpakaian cerah itu adalah Doktor lulusan luar negeri. Sudah malang melintang berkeliling dunia menjadi pembicara dalam forum-forum internasional di depan sosiolog-sosiolog terkenal luar negeri.

Sangat menghargai ilmu pengetahuan dari manapun datangnya. Tak heran ketika salah seorang teman memberikan sebuah informasi yang baru baginya, wanita itu menyambut dengan wajah sumringah penuh kebahagiaan. “Tolong fotokopikan sampul buku dan halaman sumber informasimu itu ya”, katanya dengan wajah berseri-seri seperti anak kecil yang baru dibelikan mainan. Aku ingat pernah memiliki wajah seperti itu. Hampir Sembilan tahun silam ketika aku baru dibelikan Ayah Sega Mega Drive 16 Bit setelah bersusah payah melobi selama sebulan penuh berbekal rapor semester 1 MTsN ku. Rapor yang ternyata menjadi prestasi tertinggi sepanjang sejarah kependidikanku.

Iklan

10 Komentar

Filed under mereka

10 responses to “Wanita Pemandu Wisata

  1. Congky

    hahah…
    daku malah slalu tertidur dalam wisata2 itu…

  2. Anton

    Keren2.Blog yg keren

  3. kapan sih dikau tidak tertidur?

  4. Jadi penasaran. Ngomongin budnus ya?
    Bu W ya?
    Keren euy…

  5. Kasem.

    KOK !, comentku yg panjang dhapus.

  6. Kasem.

    Saya juga mw bikin blog Akh.
    Nanti saya bkin link k sini.
    Ok.

  7. @cermindatar :
    Tepat sekali wak!

    @kasem :
    Komenmu g lulus sensor boy:p!
    Tak tunggu blogmu…

  8. Saya sangat suka tulisan ini. Memang temanya simpel: seorang dosen matakuliah Budnus. Tapi gaya penceritaan ant luar biasa…
    Salut untuk ant, salut juga untuk beliau! 🙂

  9. takkay

    Ya, beliau memang salah satu dosen berkualitas yg saya temui di STAN. berkualitas dari segi kompetensi, dedikasi dan cara mengajar..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s