Pempek Hambar di Al-Azhar

Maka, saya sangat heran malam itu, ketika pempek di belakang masjid Al-Azhar nyaris tak memberikan rasa.  meski cuko-nya berwarna coklat kental dengan taburan timun dadu, namun cairan itu lewat begitu saja di kerongkongan tanpa meninggalkan sedikitpun cita rasa.

Ribuan reseptor pada papila lidah ini kaku tak berdaya. setakberdaya puluhan milyar sel lainnya pada tubuh ini. dihadapan sebuah senyuman menenangkan menghanyutkan layaknya candu dari asia tengah. Saya telah menjadi pemilik tunggal senyuman itu. Maka, apakah yang lebih membahagiakan daripada memilikimu, Nury Siti Ermawati?

 

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s