Tag Archives: Calo

Kisah Neneng

Kapal itu besar sekali. Tak pernah Neneng melihat kapal sebesar itu sebelumnya. Bahkan truk pengangkut gula pun bisa masuk ke dalamnya. Rantai-rantainyakokoh dan gagah. Geladak dan Buritannya luas sekali. Lebih luas daripada empat kali lapangan voli di kampung sebelah.
Neneng tersenyum dalam hati. Inilah jalanku, batinnya. Tak salah lagi. Kapal Besar ini hanyalah sebuah awal. Hari-hari kedepan Neneng yakin akan menemukan lebih banyak lagi hal-hal menakjubkan lainnya.

”Hati-Hati di Jalan!”, Teriak laki-laki berkemeja kotak-kotak di ujung dermaga. Hari itu, Senyum tak pernah lepas dari wajahnya. Jaket kulit lusuh dipundaknya terlihat tak selusuh biasanya.
Neneng menoleh. Ah, Aldrin! Laki-laki itu seolah datang diutus Tuhan untuknya. Dua Minggu lalu di suatu siang yang terik Aldrin datang menghampirinya. Bercerita banyak tentang Malaysia. Tentang pekerjaan berlimpah dengan gaji yang berlimpah pula.

”Tak Perlu sekolah tinggi-tinggi. Asal bisa menghitung uang bisalah kau kerja jadi penjaga toko disana. Gajinya 2000 ringgit sebulan. Kau kalikan saja 3000 rupiah” Jelas Aldrin.

”Kau lihat rumah Pak Badrun di kampung sebelah? Kau pikir darimana dia bisa membangun rumah begitu bagusnya? Ada parabola, kulkas dan mesin cuci. Itu semua dari uang kiriman Nunik yang jadi TKW di Malaysia.”
Neneng teringat Nunik, Kawan satu SD-nya dulu. Lebaran tahun lalu Nunik pulang kampung. Seperti bintang film saja Nunik waktu itu. Rambutnya pirang. Bajunya modis dan pakai kacamata hitam. Perhiasannya bukan imitasi. Siapa yang tak mau sukses seperti Nunik.

”Apalagi yang bisa kau lakukan disini Neneng? Pergilah ke Malaysia. Tak perlu kau risaukan ongkosnya. Aku bisa meminjamimu. Nanti saja kau bayar kalau uangmu sudah banyak.”

Tak perlu waktu lama bagi Neneng untuk memikirkan tawaran Aldrin. Neneng sudah sangat bosan dengan kampung sepi yang gersang ini. Tak ada lagi yang bisa dilakukan lulusan SD seperti Neneng disini. Meski tanpa restu Emak, Neneng memutuskan untuk tetap berangkat. Dalam hati Neneng bertekad, suatu saat nanti akan pulang dan membawa banyak uang. Neneng akan membeli sawah dan sapi yang banyak untuk Emak. Emak tak perlu lagi bekerja keras, karena Neneng akan membayar orang kampung untuk mengerjakan sawah-sawah mereka.

Suara gaduh petugas kapal yang menyuruh Neneng naik membuyarkan lamunannya. Dengan langkah mantap Neneng menaiki Kapal. Doa-doa memohon keselamatan tak henti-hentinya dilafadzkan Neneng. Neneng menoleh sekali lagi ke arah Dermaga. Aldrin sudah tak ada.

***

Neneng akhirnya diberangkatkan secara ilegal ke Malaysia lewat Batam tanpa satu pun dokumen resmi. Disekap berhari-hari di Johor bersama pekerja-pekerja migran lain dari berbagai negara. Tahun-tahun berikutnya dihabiskan Neneng bekerja berpindah-pindah dari satu majikan ke majikan lain. Tanpa bayaran sepeserpun. Sangat sering mendapat perlakuan kasar.

Beberapa kali Neneng mencoba kabur, beberapa kali juga Neneng gagal. Kadang ditemukan lagi oleh Majikannya. Kadang bertemu penipu lain yang menjualnya ke Majikan lain. Sampai suatu saat seorang wanita paruh baya, entah siapa, berbaik hati mengantarkan Neneng ke KBRI Kuala Lumpur. Neneng bersama ratusan pekerja Migran lain masih bertahan mencoba mengais sisa-sisa keadilan yang entah kapan mereka dapatkan.

***

Neneng adalah satu dari 3 Juta Pekerja Migran Indonesia yang menjadi korban perdagangan manusia.
Sumber data: http://www.migrantcare.net
Sumber gambar: http://claressagifts.blogspot.com

Iklan

3 Komentar

Filed under mereka